Minggu, 06 November 2011


Ahad pagi 6 Nop 2011/10 Dh-Hijah 1432 H, dengan suasana mendung bergelayut, umat Muslim Bubutan melaksanakan Sholat Iedul Adha, mereka tersebar di beberapa titik tanah lapang, namun pagi ini mereka memilih masjid dekat rumah karena suasana yg mendung, takut ketika sholat akan turun hujan.

Setelah turun dari masjid, masing-masing Ikhwah Bubutan langsung menuju ke titik pertemuan untuk menyempurnakan Agenda Qurban yang kami sepakati dalam syuro terakhir, bertempat di pelataran Masjid Al Falah pukul 07.30 pagi. Senjata tajam telah disiapkan, simpatisan juga turut serta dan anak2 Ikhwahpun turut meramaikan, telah menjadi kebiasaan bagi kami mengajak anak2 kami turut serta dalam kegiatan jama’ah untuk menumbuh kembangkan tsaqofah, fikriyah dan kecintaan pada tradisi2 Islam.

DPC Bubutan kali ini mendapatkan hewan qurban 1 ekor sapi 6 ekor domba, Satu persatu hewan qurban kami sembelih, namun kami hanya mengerjakan yang 1 ekor sapi dan 3 ekor domba, sisanya di serahkan langsung ke simpatisan di beberapa titik untuk di sembelih sendiri bersama warga masyarakat.

Hari telah beranjak siang dan daging qurbanpun telah selesai di kantongi, saatnya untuk pendistribusian, masing-masing DPRa telah di persiapkan bagiannya untuk di distribusikan ke masing-masing simpatisan, seperti tahun2 lalu simpatisan terlalu banyak dari pada jumlah kantong yg kami bagikan. Hari itu juga telah selesai agenda Qurban 1432 Hijriyah DPC Bubutan dengan kami akhiri acara tasyakuran di rmh salah seorang Ikhwah di Jl. Kranggan bersama Cada dari DPD kota Surabaya.

Selasa, 20 September 2011

Ada Tumpeng di Halal bi halal DPC Bubutan


Ahad 18/9/2011 Pukul 19.00 di salah satu rumah seorang ikhwah, telah ramai orang berkumpul, sambil duduk lesehan berbincang-bincang riuh dengan suasana yg segar, dari kejauhan Akhi Hamzah bersama Istrinya mempersilahkan masuk ikhwah-ikhwah yg baru datang satu persatu. Mereka saling menyapa dan mengucapkan salam, tidak jarang beberapa Ikhwah terdengar suara tawa, maklum kami jarang berkumpul seperti ini setelah pemilu kada kota Surabaya, pelaksanaan Halal bi halal ini sengaja kami pusatkan di wilayah DPRa Gundih karena wilayah ini berada di tengah-tengah wilayah Kecamatan Bubutan dan juga menjadi episentrum Dakwah di wilayah sekitar Kecamatan juga dengan jumlah kader paling banyak.

Sambil menunggu yg lain pukul 19.30 kami segerakan membuka acara dengan alunan bacaan Al Qur'an oleh Akh Mahsus kemudian kami lanjutkan dengan sambutan dari ketua DPC Bubutan Akhuna Ali Ahmadi yg memaparkan agenda kegiatan kedepan dan di teruskan taujih oleh wakil ketua DPD kota Surabaya Akhuna Qodar Iswanto dengan tema pentingnya menjaga kedekatan kita kepada Allah SWT sebagai ruh aktivis dakwah.

Waktu terus berlalu tiada terasa hampir pukul 20.00, saatnya memasuki acara inti yaitu pemotongan tumpeng yg dilakukan oleh ketua DPC sebagai tanda di mulainya aktifitas dakwah di Bubutan. Begitu singkat pertemuan kami dalam kegiatan ini namun Alhamdulillah kami selesaikan agenda Halal bi halal dengan lancar walau agak molor dari jadwal yg seharusnya pukul 19.00. Dengan diakhiri dengan bacaan Hamdalah dan kami tutup Halal bi halal ini dengan do’a kafaratul majlis, semoga ini menjadi penyemangat perjuangan panjang di arena yg luas. Waallahu a’lam.

Selasa, 09 November 2010

SERUAN UNTUK KEPRIHATINAN DAN MUNAJAT NASIONAL

TADZKIROH DEWAN SYARI’AH PUSAT PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
NOMOR: 12/TK/DSP-PKS/1431H
TENTANG SERUAN UNTUK KEPRIHATINAN DAN MUNAJAT NASIONAL

MUQADDIMAH

Bangsa Indonesia sekarang ini menghadapi situasi dan kondisi yang sungguh sangat memprihatinkan. Musibah demi musibah susul menyusul seolah tidak kunjung berhenti. Pada penghujung tahun 2010 ini, begitu banyak musibah yang terjadi, musibah di Wasior Papua Barat, Tsunami di kepulauan Mentawai Sumatera Barat.

Dan erupsi gunung Merapi di Jogyakarta dan Jawa Tengah yang masih terus meluncurkan awan panasnya. Belum lagi musibah lainnya seperti tabrakan kereta api, banjir bandang di beberapa kota seperti, Jakarta dan lainnya. Korbanpun terus-menerus berjatuhan, nyawa dan harta benda hilang melayang.

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, kita sangat prihatin atas musibah ini.
Mengucapkan duka cita dan belasungkawa yang sangat mendalam kepada seluruh korban musibah, baik yang meninggal maupun yang menderita sakit. Berempati kepada keluarga korban yang kehilangan sanak saudara, harta benda yang sangat banyak, semoga musibah ini memberikan hikmah dan pelajaran yang berharga bagi kita semua, membuat kita semakin mendekat kepada Allah Ta’ala, arif dan dewasa dalam menyikapi setiap kejadian dan musibah.

Bagi kita semua di seluruh Indonesia yang tidak terkena musibah secara langsung, baik pejabat pemerintah maupun rakyat, maka berkewajiban untuk membantu baik dengan harta maupun tenaga dan bergotong-royong mengurangi beban dan penderitaan korban musibah.

RENUNGAN

Pada saat yang sama kita juga harus merenung dan muhasabah (introspeksi diri) terhadap seluruh kejadian ini. Isyarat apakah ini ? Adakah orang yang mau belajar dan mengambil pelajaran ?

Sesungguhnya gerakan bumi dan fenomena alam semesta seperti hujan, angin, ombak, panas, pergeseran lempeng bumi dll. Begitu juga aktifitas bumi dan alam semesta yang menimbulkan musibah dan bencana bagi manusia dan kehidupan, tidaklah terjadi begitu saja, akan tetapi semuanya atas rencana dan kekuasaan Allah Ta’ala. Perhatikan Firman Allah SWT bahwa langit dan bumi tunduk patuh kepada Allah dan bergerak sesuai dengan perintah Allah:

“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati" (QS Fushilaat 11).

“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada- Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan Hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan”.

“Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari. Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?"

Jawabnya: "Allah".

Katakanlah: "Maka patutkah kamu mengambil pelindungpelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?".

Katakanlah: "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?"

Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan yang Maha Esa lagi Maha Perkasa".

Manusia tidak ada yang dapat selamat, kecuali dengan taufiq dan perlindungan Allah. Gunung Merapai yang terus-menerus memuntahkan awan panas tidak ada yang dapat menghentikan kecuali Allah. Kekuasaan dan rencana Allah Ta’ala terjadi bukan hanya pada yang besar-besar, bahkan yang kecilpun tidak luput dalam rencana dan kekuasaan Allah, perhatikan ayat ini:

”Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia sendiri, dan dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" (QS Al-An’am 59)

Dan perhatikan juga korelasi kekuasaan Allah dan rencananya terkait gerakan bumi yang menimbulkan musibah dan keberkahan terhadap prilaku manusia:

”Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun".

Tetapi mereka berpaling, Maka kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.Demikianlah kami memberi balasan kepada mereka Karena kekafiran mereka. dan kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan Hanya kepada orang-orang yang sangat kafir”.

” Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu Dhuha (matahari sepenggalahan naik) ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS Al- A’raaf 96-99)


MUHASABAH DAN MUNAJAT

Setiap bencana dan musibah yang menimpa di suatu tempat atau negeri, tidaklah
terjadi secara kebetulan dan tanpa sebab. Musibah itu pasti ada sebabnya. Oleh karena itu marilah kita melakukan muhasabah akan musibah yang terus-menerus menimpa kita. Marilah kita bermunajat (memohon dan mendekatkan diri pada Allah).

1. Musibah demi musibah ini harus menyadarkan kita akan kelemahan dan kerendahan kita dihadapan Allah Yang Maha Kuasa. Mengakui kesalahan dan dosa kita kemudian bertekad memperbaiki diri, beristighfar dan bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenarnya. Taubat dari kemusyrikan,keyakinan yang salah, kewajiban yang ditinggalkan dan kemaksiatan yang dilanggar.

“Hai manusia, kamulah yang butuh kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji” (QS Faathir 15).

Dan (Hud berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa." (QS Hud 52)

2. Memasuki bulan Dzulhijjah, marilah kita memanfaatkan momentum ini untuk memperbanyak doa, dzikir, ibadah, amal sholih dan melakukan mobilisasi kebaikan, membantu korban musibah. Rasulullah saw bersabda:

Dari Ibnu Abbas ra berkata, Rasulullah saw. bersabda, ”Tiada hari dimana amal shalih lebih dicintai Allah melebihi hari-hari ini –yaitu sepuluh hari pertama Zhulhijjjah.“ Sahabat bertanya, ”Ya Rasulallah saw, tidak juga jika dibandingkan dengan jihad di jalan Allah?“ Rasul saw. menjawab, ”Tidak juga dengan jihad, kecuali seorang yang berjihad dengan jiwa dan hartanya serta tidak kembali (gugur sebagai syahid).” (HR Bukhari)

” Pelaku kebaikan akan terhindarkan dari keburukan, sedekah yang dirahasiakan memadamkan kemurkaan Allah, silaturahim menambah umur” (HR At-Tabrani)

3. Etika bagi orang-orang yang terkena musibah adalah bersabar, berbaik sangka kepada Allah, tidak putus asa. Kemudian berusaha bangkit mencari solusi untuk mengatasi masalah.

”Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun".Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang Sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS Al-Baqarah 155-157).

4. Bagi kita semua bangsa Indonesia, pejabat pemerintah, penegak hukum, wakil rakyat di pusat maupun daerah dan seluruh rakyat harus meningkatkan syukur kita kepada Allah Ta’ala atas ni’mat dan karunia kekayaan alam ini, dengan cara mengelolanya secara lebih amanah, adil dan profesional. Dan semua itu kita lakukan dalam rangka beribadah kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman:

”Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan;"Sesungguhnya jika kamu bersyukur,pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih"(QS Ibrahim 7) .


SERUAN

Melalui rangkaian musibah nasional ini boleh jadi merupakan isyarat bahwa Allah SWT sesungguhnya sedang memberi kesempatan kepada kita putra-putra bangsa, untuk menunjukkan kesadaran nasional. Dengan gerakan relijius, keadaban dan historis yang dilakukan secara masif pelbagai bentuk Taqarrub, Qunut Nazilah dan Munajat Nasional. Diserukan oleh Presiden RI, di dukung oleh ketua DPR/DPD RI, para pemimpin organisasi dan komunitas di seluruh tanah air. Tepat jika mengambil momentum 10 hari pertama bulan Dzulhijjah 1431 dan dengan dipimpin oleh amirulhajj, seluruh jamaah haji Indonesia melakukannya dengan lebih khusyu’ di tanah suci, terutama di padang ’Arafah. Semoga Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, melihat keseriusan kita dan mendengar keprihatinan serta munajat kita.

PENUTUP

Akhirnya, semoga Allah Ta’ala memberikan kebaikan dan keberkahan kepada kita, menjauhkan kita dari segala musibah, menjadikan kita hamba yang pandai bersyukur atas segala ni’mat-Nya, menghapuskan segala dosa dan kesalahan kita. Amien

28 Jakarta, Dzulqa’dah 1431 H/5 November 1431 M

DEWAN SYARI’AH PUSAT PARTAI KEADILAN SEJAHTERA

KH. DR. SURAHMAN HIDAYAT, MA

KETUA

Rabu, 03 November 2010

Tamayyuz di Mihwar Muassasi

by :Ust. hilmi Aminuddin (ketua Majelis Syura DPP)

Mahawir ad-da’wah

Ikhwah dan akhwat fillah, saat ini gerakan dakwah kita memiliki rakizah siyasiah, yakni stressing atau titik tekan pada bidang politik. Hal ini perlu saya garis bawahi, mengingat ada beberapa hal yang kadang-kadang menyebabkan kita mengalami keterjebakan situasional. Misalnya ada yang mengatakan atau menganggap kita masuk ke dalam mihwar siyasi (era politik).

Padahal dalam manhaj kita, hanya dikenal mahawir arba’ah atau empat era yang di dalamnya tidak ada mihwar siyasi (era politik) sebagaimana halnya tidak ada mihwar tarbawi (era pembinaan). Keempat mihwar dakwah tersebut ialah mihwar tanzhimi (structural), mihwar sya’bi (masyarakat), mihwar muassasi (kelembagaan) dan mihwar daulah (negara). Di setiap mihwar dari empat mihwar dakwah tersebut terkandung amal siyasi (aktivitas politik) dengan tingkat persentase yang berbeda-beda, karena amal siyasi adalah bagian tidak terpisahkan dari amal da’wi (aktivitas dakwah) kita.

Ikhwah dan akhwat fillah, seringkali dalam menghadapi situasi, kondisi-kondisi, aksi-aksi dan tantangan-tantangan tertentu kita lupa untuk merujuk atau kembali ke manhaj (pedoman). Padahal penguasaan kita akan manhaj, insya Allah cukup baik, apakah itu di ruang lingkup manhaj asasi, yakni Alquran dan Sunah ataupun di ruang lingkup produk ijtihad jama’ah kita yang tentunya juga bersumber dari Alquran dan Sunah. Langkah-langkah perjuangan dalam bentuk manhaj amali (pedoman aktivitas) tersebut cukup untuk dapat merespon dan mengantisipasi segala perkembangan. Hanya saja kita seringkali lupa merujuk ke manhaj tersebut. Boleh jadi karena keterdesakan kita di lapangan atau kesibukan yang demikian padat.

Agar lebih jelas, saya ingin sedikit mengulang penjelasan-penjelasan tentang stressing di masing-masing mihwar. Pada mihwar tanzhimi, rakizatul amal (stressing kerja) kita berupa bina syakhshiyah islamiah dan syakhshiyah da’iyah atau mewujudkan sosok pribadi islami dan pribadi da’iah. Juga bagaimana kita berusaha mengokohkan mishdaqiyah syakhsyiah islamiyah dan mishdaqiyah syakhshiyah da’iyah atau kredibilitas pribadi islami dan kredibilitas pribadi da’iyah.

Di era atau mihwar tanzhimi tersebut yang selalu kita ukur dan evaluasi adalah tingkat pertumbuhan kader dalam arti pertumbuhan dan perkembangan kader-kader kita secara internal. Bahkan ketika kita mengukur, mengevaluasi diri dari segi eksternal, yang kita lihat pun sejauh mana pertumbuhan calon kader yang dapat direkrut menjadi kader. Jadi di masa itu orientasinya adalah perekrutan, pembinaan, pertumbuhan dan perkembangan kader-kader dakwah.

Kemudian dakwah kita berkembang dan memasuki mihwar atau era sya’bi. Di era ini kita mulai ber-sya’biah atau mensosialisasikan siri, kader-kader dan program-program dakwah kita di masyarakat. Sasaran yang ingin dicapai di mihwar ini adalah mishdaqiyah syakhshiyah ijtima’iyah atau kredibilitas sebagai pribadi yang diterima di masyarakat. Kita berupaya keras agar kader-kader kita memiliki kredibilitas tersebut. Di mihwar sya’bi ini kita bukan hanya menerapkan tolak ukur kuantitas berupa pertumbuhan dan perkembangan kader, melainkan juga sejauh mana kader-kader yang kita miliki memberi pengaruh di masyarakat.

Ikhwah dan akhwat fillah, di mihwar tanzhimi kita sudah mulai melaksanakan program-program yang merupakan mukadimah atau pengkondisian ke arah mihwar sya’bi. Begitu pula di mihwar sya’bi, kita sudah melakukan langkah-langkah pendahuluan yang sekaligus merupakan kondisioning untuk menuju mihwar muassasi.

Alhamdulillah, Allah Ta’ala memberikan peluang yang mempercepat masuknya kita ke mihwar muassasi. Kita memang sudah membuat langkah-langkah mukadimah menuju mihwar muassasi berupa pendirian yayasan, lembaga-lembaga pendidikan, lembaga penelitian dan lain sebagainya. Namun perubahan-perubahan cepat yang terjadi yang antara lain dipicu dan dipacu oleh globalisasi ekonomi, politik dan lain-lain serta krisis ekonomi—dan tentu saja sebab utamanya adalah tadbirullah (rekayasa Allah), membuat peluang untuk memunculkan diri dalam bentuk kelembagaan formal terbuka lebar. Maka mulailah kita memasuki mihwar muassasi dengan menampilkan diri sebagai Hizbul ‘Adalah (Partai Keadilan). Kita menyebutnya mihwar muassasi dan bukan mihwar siyasi, walaupun memang dalam mihwar muassasi sebagaimana halnya di mihwar tanzhimi dan sya’bi terkandung aspek-aspek siyasi. Dan karena di mihwar muassasi ini sudah menyentuh aspek kelembagaan politik, maka persentase amal siyasinya pun meningkat.

Upaya memantapkan langkah-langkah secara struktural dan operasional di mihwar muassasi ini juga akan menyentuh sektor amal siyasi. Sekali lagi saya tegaskan bahwa amal siyasi merupakan sektor. Sebab bila kita mengatakan mihwar kini sebagai mihwar siyasi berarti kita terjebak ke dalam amal juz’i dan sekaligus harakah juz’iah, seperti halnya kita tidak bisa mengatakan sebagai mihwar tarbawi agar tidak terjebak juga pada ke-juz’iyah-an atau keparsialan. Jadi setiap mihwar memiliki beragam amal sesuai dengan ke-syumuliah-an dan ke-takamuliah-an amal Islam.

Ikhwah dan akhwat fillah, karena itu di setiap mihwar dibutuhkan adanya ke-tawazun-an antar amal. Ke-tawazun-an adalah proporsionalitas dalam pemberian peran-peran, pendayagunaan dan pengerahan potensi-potensi SDM. Kata proporsionalitas menunjukkan adanya ketepatan atau akurasi penyaluran potensi sesuai dengan tuntutan medan dan situasi-kondisi serta aksi-aksi yang kita lakukan.

Oleh karena itu, ikhwah dan akhwat fillah, betapa pun kita dituntut untuk merespon situasi dan kondisi saat ini dengan proporsionalitas yang menuntut porsi lebih di bidang politik, tetap saja kita tidak boleh mengabaikan amal tarbawi (pembinaan), amal tsaqafi (penambahan wawasan), amal khairi (sosial), amal ijtima’i (kemasyarakatan) dan lain-lain. Masalah stressing atau penekanan di sektor tertentu pada moment tertentu adalah hal yang biasa. Misalnya di bulan Ramadhan kita meliburkan halaqah-halaqah tarbawi internal, karena kita ingin merespon amal khairi dan taabbudi (ibadah) di bulan mulia tersebut. Kita berkonsentrasi meningkatkan tadayyun sya’bi (keberagamaan masyarakat) karena terdapat katsafah furshah (peluang yang luas) di bulan Ramadhan.

Jadi bila kini menjelang pemilu kita merespon tuntutan amal siyasi yang membesar, itu merupakan masalah proporsionalitas tanpa harus mengabaikan bidang-bidang lain. Sehingga memadatnya aktivitas politik kita menjelang pemilu tidak berarti kita terjebak dalam mihwar politik. Mihwar kita adalah mihwar muassasi, artinya secara kelembagaan kita mulai menampilkan diri seluruh batang tubuh ke permukaan dengan nama Hizbul ‘Adalah.

Ikhwah dan akhwat fillah, mihwar muassasi ini akan terus berkembang ditandai dengan bertambahnya muassasah atau lembaga infrastruktur sosial politik kemasyarakatan baik yang kita bangun sendiri atau yang kita warnai (muassasah yang dibangun oleh ikhwah seperjuangan dalam Islam, yaitu ormas atau parpol lain), dan nantinya juga kita bisa melebarkan sayap dengan memasuki secara langsung lembaga-lembaga suprastruktur dan infrastruktur kenegaraan. Hal ini merupakan bagian dari mihwar muassasi dan merupakan langkah-langkah awal yang akan menjembatani masuknya kita, Insya Allah, mustaqbalan (di masa mendatang) ke dalam mihwar daulah.

Hal penting yang harus kita perhatikan di dalam mihwar muassasi ialah bahwa kita bukan sekadar memunculkan diri dalam bentuk kelembagaan partai, melainkan juga mengupayakan bagaimana aqidah, fikrah dan manhaj kita mewarnai infrastruktur sosial politik di masyarakat atau infrastruktur kenegaraan dan kemudian akhirnya supra struktur kenegaraan. Lembaga infrastruktur dan suprastruktur negara akan kita masuki jika tingkat proporsi penyebaran SDM dan pengaruh kita di ruang lingkup kelembagaan infrastruktur kemasyarakatan atau sosial politik sudah memadai. Barulah kemudian kita melangkah ke dalam mihwar daulah.

Dalam hal ini ingin saya ingatkan bahwa setiap mihwar memiliki perimbangan proporsi amal yang berbeda-beda dan dapat berubah-ubah. Hendaknya hal ini tetap dalam ruang lingkup ke-tawazun-an dan keterpaduan amal islami.

Tamayyuz

Langkah-langkah amal kita harus mutamayyiz. Kita bergaul bersama, berpacu, namun nahnu mutamayyyizun (kita berbeda). Kata tamayyuz mengandung pengertian keberbedaan yang mengandung keistimewaan. Jadi bukan asal beda, melainkan mutamayyiz ’an ghairina, berbeda yang mengandung keistimewaan dari yang lainnya. Kita mengetahui slogan yang dikumandangkan oleh Syahid Sayyid Quthb, yaitu yakhtalithun walakin yatamayyazun, kita berbaur, bergaul, bersilaturahmi, ber-tawashau bil haq, ber-tawashau bis shabri, tawashau bil marhamah dengan seluruh lapisan umat, namun nahnu mutamayyizun, kita berbeda. Tamayyuz—kespesifikan ini penting agar menjadi arahan yang memudahkan masyarakat untuk mendukung kita.

Pertama-tama tamayyuz kita adalah dalam ruang lingkup SDM. Kita harus mutamayyiz fii rijal. Kita harus sanggup menampilkan tamayyuz fii rijal, keistimewaan SDM atau personil.

Ikhwah dan akhwat fillah, dalam memasuki mihwar muassasi yang kedudukannya merupakan langkah-langkah mukadimah menuju mihwar daulah, rijalud da’wah atau SDM dakwah kita seyogianya sekaligus juga memiliki bobot dan bakat yang akan dikembangkan menjadi rijalud daulah atau sosok negarawan yang memiliki visi kenegaraan yang baik.

Kita sudah memiliki kader-kader yang berbasis akidah, fikrah dan minhaj yang baik. Kini tinggal berupaya bagaimana kita mengekspresikan diri dan mengaktualisasikan diri secara atraktif. Bukan berarti kita riya, melainkan semata-mata dalam kerangka ‘isyhadu bi anna muslimin”, saksikan kami ini orang-orang Islam. Kita mencoba memperjelas, mengedepankan tampilan produk islamisasi rijal kita.

Paling tidak ada lima kespesifikan, keunikan atau keistimewaan yang—Alhamdulillah—dimiliki oleh jamaah kita, yaitu:

1. Mutamayyiz fii rijal (keistimewaan SDM)

2. Mutamayyiz fi adaa (keistimewaan penunaian tugas)

3. Mutamayyiz fii intaj (keistimewaan sentuhan produk)

4. Mutamayyiz fii khidmah (keistimewaan pelayanan)

5. Mutamayyiz fii muamalah (keistimewaan bermasyarakat)

Keistimewaan yang pertama ialah mutamayyyiz fii rijal atau keistimewaan personil dakwah. Keistimewaan personil dakwah atau SDM ini dilandasi oleh tamayyuz fii aqidah, fikrah, minhaj dan akhlaq. Modal utama berupa keistimewaan dalam akidah, fikrah, minhaj dan akhlak sangat berdayaguna dalam membangun mishdaqiyah syakhshiayah da’iyah (kredibilitas pribadi muslim dan da’iyah).

Namun keistimewaan SDM ini harus ditunjang oleh tamayyuz fii adaa atau keistimewaan dalam penunaian tugas. Jadi kita harus mutamayyiz fii adaa. Dalam menunaikan tugas, kita memiliki modal berupa motivasi yang tinggi yang dibangun oleh aqidah kita. Kemudian idealisme yang besar yang dibangun oleh fikrah kita dan langkah-langkah kerja yang tertib teratur yang dibangun oleh manhajiah kita.

Kesemuanya itu menjadi modal dalam menunaikan ruhul badzli wa tadhhiyah karena dilandasi niat yang khalishan li wajhillah ta’ala. Ruhul badzli wa tadhhiyah adalah modal motivasi, militansi dan vitalitas stamina yang dibangun oleh akidah, fikrah, akhlak dan semangat ibadah kita. Kesemuanya itu menjadi modal utama dalam tamayyuz fii adaa yang kemudian ditopang pula oleh kemampuan dalam takhtit, perencanaan/programming dan idariah/manajemen.

Kelengkapan modal tersebut membuat kita mutamayyiz fi adaa, istimewa dalam penunaian tugas. Kita tidak menjadi orang-orang yang menunaikan tugas secara infiradiyah, sekenanya, seketemunya dan seadanya di lapangan, melainkan benar-benar mutamayyiz fii adaa karena di back up oleh faktor-faktor mental, moral dan ideal serta faktor-faktor konsepsional, berupa perencanaan dan manajemen yang baik. Jika kita berhasil menampilkan adaa’ul wazhaif (penunaian tugas secara baik), insya Allah keistimewaan kita akan muncul di tengah masyarakat.

Apalagi bila diikuti dengan keistimewaan produk-produk yang kita hasilkan yang menimbulkan kesan dan pengaruh yang kuat di masyarakat karena mau tidak mau masyarakat memang menilai dan mengukur masalah produktivitas.

Karena itu, keistimewaan yang ketiga yang harus kita miliki adalah tamayyuz fii intaj. Program-program yang kita gulirkan harus terasa hasilnya di masyarakat. Sudah tentu yang dimaksudkan terasa, tidak selalu harus dalam bentuk produk materi. Bahkan sebagian besar yang kita miliki bukan berupa produk materi, melainkan pendekatan ilmi, shihhi, ijtima’i, ma’nawi dan sebagainya

Ikhwah dan akhwat fillah, sudah sewajarnyalah masyarakat mengharap dan menunggu-nunggu produk-produk nyata yang dihasilkan oleh parpol-parpol dan kelompok-kelompok organisasi yang menjamur belakangan ini. Oleh karena itu kita harus mampu menyajikan produk yang mutamayyiz kepada masyarakat jika ingin mendapatkan sambutan publik yang baik.

Tamayyuz dalam produk bukan diukur dari segi kuantitasnya, melainkan dari segi kualitas sentuhannya yang terasa di hati masyarakat.

Ikhwah dan akhwat fillah, tamayyuz yang berikutnya yang juga harus kita miliki ialah tamayyuz fii khidmatan lis muslimin (keistimewaan dalam pelayanan kepada muslimin), khidmatan lin naas (pelayanan kepada manusia), sehingga kita akan tampil mutamayyiz fii khidmah (istimewa dalam pelayanan). Ada pepatah Arab berbunyi, “An-naas yuwalluna man yakhdimuhum,” (manusia akan memberikan wala atau loyalitas kepada orang-orang yang melayaninya). Karenanya ada juga pepatah lain, “Sayyidul qaum khaadimuhum” (Pemimpin suatu kaum [bangsa] adalah pelayan bagi kaum tersebut).

Bila kita tampil sebagai lembaga yang paling piawai memberikan pelayanan kepada masyarakat, maka ia pun akan mendapatkan sambutan lebih dibanding dengan yang lain. Pelayanan kepada masyarakat tidak harus selalu diartikan pelayanan fisik, materi yang bersifat langsung, simbolik, atraktif dan promotif, misalnya pemimpin datang memberikan bantuan materi kepada bawahannya. Hal itu hanya merupakan sebagian kecil dari ruang lingkup pelayanan kepada masyarakat. Memang hal itupun perlu juga sekali-kali kita lakukan, namun yang lebih penting adalah bagaimana kerja keras kita, mengupayakan terjaminnya kemaslahatan masyarakat dalam dua hal yang digariskan Allah dalam Q.S. Quraisy: (1) Terjaminnya masyarakat dari kebutuhan-kebutuhan hidupnya yang asasi أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ (terbebasnya dari kelaparan) dan (2) Kebutuhan akan rasa aman atau terbebas dari ketakutan, ketidakpastian, intimidasi, kediktatoran dan kezhaliman (وَءَامَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ).

Kedua hal tersebut juga berkaitan dengan لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ atau masalah qalb (hati) dan وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ atau berkaitan dengan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan jasadiyah. Ruang lingkup pelayanan kita harus meliputi kedua aspek tersebut.

Dalam masalah pelayanan ini, hal yang perlu saya garis bawahi bahwa itu meliputi garis vertikal ke atas, yakni upaya kita mempengaruhi decision making dalam hal politik, hukum dan perundang-undangan dengan cara aktif memberikan usulan, kritik dan koreksi. Kemudian juga meliputi garis vertikal ke bawah, yakni upaya kita menggulirkan produk-produk dalam ruang lingkup ijtima’iyah, khairiyah, ilmiyah, tsaqafiyah, shihhiyah dan fanniyah di tengah masyarakat.

Produk-produk dalam ruang lingkup vertikal ke bawah akan menjadi basis dari upaya meluncurkan produk siyasah wal qanun ke atas. Dan produk siyasah wal qanun ke atas akan memayungi dan melindungi segala aktivitas pelayanan kita ke bawah. Artinya segala aktivitas kita yang menyebar di masyarakat perlu mendapat perlindungan politik dan hukum. Sebaliknya segala aktivitas yang berkaitan dengan masalah politik dan hukum perlu mendapatkan basis berupa produk dan kerja nyata kita di bidang ijtima’iyah, khairiyah, ilmiyah, fanniyah, iqtishadiyah dan sebagainya.

Akhirnya, ikhwah dan akhwat fillah, tamayyuz kelima yang harus kita miliki adalah tamayyuz fii muamalah. Cara agar kita tampil beda dan istimewa dalam bermuamalah (bergaul) adalah bila kita bermuamalah bil ihsan. Allah berfirman,

“Tidak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan (pula).

Dalam hadits juga disebutkan bahwa Allah menyuruh kita berbuat ihsan dalam segala urusan. Yang dimaksud dengan ihsan adalah kebaikan-kebaikan, apakah berupa kebaikan materi, sulukiyah, maupun sikap dan perilaku. Dalam menyalurkan kebaikan-kebaikan tersebut hendaknya kita membingkainya dengan akhlaqul karimah. Sebab betapa pun besar kebaikan yang diberikan, jika cara memberikannya tidak disertai dengan adab dan kesantunan, maka ia akan lebih dirasakan sebagai penghinaan dan bukan kebaikan.

Inti muamalah adalah bagaimana kita menyebarkan kebaikan di tengah masyarakat dengan dibingkai akhlaqul karimah. Maka masyarakat pun akan melihat bahwa kita mutamayyiz fii muamalah, istimewa dalam berinteraksi di masyarakat. Sebab upaya menanamkan pengaruh di masyarakat, pada hakikatnya adalah bagaimana kita merebut hati orang. Selain berupaya membuka hati mereka melalui program-program yang kita selenggarakan dengan baik, juga harus dengan kekuatan ta’abudi dan taqarrub kita kepada Allah, karena miftahul qulub, kunci hati ada di tangan Allah. Dengan kekuatan ikhtiar dan doa kita berharap kepada semoga Allah membukakan hati-hati mereka.

Wallahu a’lam

Selasa, 31 Agustus 2010

Terorisme; “Saya Muslim, Saya Korbannya”

Dr. Bitsniyah Sya’ban

Asy-Syarq Qatar

(InfoPalestina.com) Mereka yang mensinonimkan kata terorisme dengan kata Islam kini berusaha melakukan cuci otak kita dengan ungkapan “saya muslim, saya anti terorisme”. Kini ungkapan ini banyak berseliweran di layar kaca negeri-negeri Arab selama bulan Ramadhan. Ungkapan ini bukan produk kaum Muslimin bukan pula produk musuh para teroris hakiki. Tujuan pendanaan iklan yang demikian intens ini selama bulan Ramadhan ini bukan ingin membebaskan Islam dari tudingan Israel dan para sekutunya dari kelangan kelompok neo konservatif pasca 11 September.

Perhatikan! Sangat jelas dari kesan inti dari ungkapan yang menegaskan “meski saya muslim, saya anti terorisme”. Ungkapan ini berarti, musuh-musuh kita mengarahkan kepada 1 milyar muslim di dunia tudingan terorisme dan membebaskan kaum Kristen, Yahudi, Budha, Hindu dan lainnya dari tudingan “terorisme”. Berapa banyak kejahatan Israel terhadap bangsa Arab Muslim dan Kristen di dalam dan luar Palestina setiap hari, membunuh, membantai, menggusur rumah, menghancurkan lahan, memblokade, membakar masjid, dan masih panjang daftarnya. Namun, apakah pernah sehari saja kita melihat ungkapan “Saya yahudi, saya anti terorisme”???

Padahal berapa banyak pasukan Amerika dan pasukan koalisinya dari barat yang menginvasi Irak, Afganistan menggelar kejahatan perang, terror, pembantaian massal, peledakan, siksaan, pembantian yang korbannya lebih dari 1 juta warga Irak. Belum lagi ratusan ribu warga Afganistan dan Pakistan. Korban selalu dari kalangan muslim sipil, anak-anak, wanita. Lantas pernahkah sehari saja ada ungkapan “Saya Kristen, saya anti terorisme”?? Kenapa? Sebab serangan rasis terfokus sejak 11 September 2001 hingga hari ini hanya terarah kepada Islam dan kaum muslimin. Jika analogi dengan hasil peristiwa benar, maka bisa disimpulkan bahwa peristiwa 11 September bertujuan mencari pembenar untuk mendeklarasikan perang terhadap umat Islam dan memberikan legitimasi bagi kejahatan Israel yang digelar di Palestina berupa yahudisasi, pengusiran, pembunuhan, pemenjaraan, penyiksaan.

Naumun pertanyaannya, bisakah 1,3 milyar muslim menghadang serangan rasis melalui lembaga studi terbuka dengan cara mengajak dialog dengan barat dengan bahasa mereka untuk menjelaskan makna-makna agung Islam? Padahal bila makna-makna dan nilai itu diadopsi dengan benar akan menjadi penyelamat hakiki manusia dari krisis dan kemaksiatan. Apakah ketakutan terhadap Islam yang mendorong musuhnya untuk mengarang cerita bohong atau film atau kartun yang menistakan citra Islam yang toleran? Mana dunia dari sosok pengulu para Nabi yang bisa memaafkan musuh yang sudah menyerah? Mari kita bandingkan dengan perlakuan Amerika dan Israel terhadap tawanan perang dan lihat pula di Guantanamo, Abu Ghurb, penjara Israel? sebuah perbedaan moral yang sangat jauh antara spirit dan ruh kemanusiaan dalam Islam dengan brutalisme musuh-musuhnya.

Mana moral yang didengungkan ketika baca cerita pilu penyiksaan brutal dan perlakukan keji terhadap tahanan, anak-anak, wanita di Palestina, Irak, Aganistan, Pakistan di penjara kaum yang mengaku beradab itu? Jika kembali kepada penamaan “terorisme” bukankah pejuang kulit hitam Nilson Mandela dianggap teroris pada oleh penjagal dari system Aparthaid? Bukankah semua kekuatan perlawanan dulu dan kini dianggap sebagai teroris oleh pasukan penjajah Fasis, Nazi, dan kolonialisme sampai kelompok perlawanan mampu mewujudkan kemerdekaan bagi bangsanya?

Lihat laporan yang kita baca di situs Wikilikz soal Afganistan dan Irak dimana justru Amerika Serikatlah yang mengeksport terorisme ke penjuru dunia (Washington Pos, 25 Agustus 2010). Harian ini melansir tiga laporan rahasia dari Pusat Studi Sel Merah di CIA yang menetapkan warga Pakistan David Hedley dan dua lainnya sebagai pelaku terror Mumbay. Hedley mengakui bertanggungjawab dalam serangan Mumbay yang merenggut nyawa 160 orang. Namun ia bergerak bebas di Amerika, Pakistan dan India.

Masalah seperti ini bukan hal baru. Di tahun 1994, seorang dokter yahudi Amerika bernama Barukh Goldstain migrasi dari New York ke Israel dan bergabung dengan kelompok ekstrim dan membunuh 29 warga Palestina yang sedang shalat di masid Ibrahimi di kota Hebron.

Dan perlu diingat, di bulan lalu ada 76 ribu kumpulan dokumen rahasia di Wikilikz dari rekaman Amerika dan laporan di lapangan soal perang di Afganistan. Laporan dan dokumen ini menyulut kritikan karena memuat informasi yang memojokkan dan menuding pasukan Amerika dan agennya di Afganistan melakukan tindakan terorisme. Banyak tuntutan agar dokumen itu ditarik.

Bagaimana lantas layak bagi orang seperti mereka mengotori nama Islam dengan terorisme yang mereka lakukan sendiri. Mereka mendanai kelompok teroris. Kita semua tahu peran intelijen Amerika dalam melatih kelompok teroris yang dikaitkan dengan Islam. Sebab anggota termasuk yang tergiur oleh dana. Seperti yang terjadi pada perang dingin. Bahkan kini mereka menggunakan mafia “perusahaan keamanan” (baca artikel Jason Thomas dengan judul “Agar Afganistan Lebih Berbahaya” di Hiralide Tribun, 25 Agustus 2010 dimana penulis keukeuh mengatakan “Amerika menjaga orang asing dan lembaga-lembaga bantuan lokal” “menjaga dana yang cash yang dikirim melalui mobil berlapis baja.”

Semua pihak tahu segala yang ditulis soal Afganistan tentang kemunafikan, korupsi, pragmatis. Nyawa dan keamanan warga Afganistan di luar itu. Hal yang tidak berbeda terjadi di Irak. Lantas atas dasar apa mereka bicara soal Islam sebagai sumber terorisme? Bagaimana mereka menuding kaum muslimin sebagai terorisme sementara mereka yang produsen terorisme itu sendiri. Pantaskah TV-TV Arab menyiarkan iklan menuding jutaan umat Islam sebagai teroris di bulan mulia ini dimana umat sedang menikmati akhlak islam yang mulia? Pantaskah mereka yang menggunakan cara-cara penyiksaan, peledakan, pembantaian, korupsi, perang sebagai cara resmi penjajahan negeri muslim satu demi satu kemudian menuding kelompok yang membela kehormatan, kebebasan, kedaulatan dengan tudingan teroris? Ataukah mereka ingin mendikte kita umat Islam dengan nilai-nilai dan gagasan serta moral agama kita sendiri, smentara mereka secara rahasia dan terang-terangan nilai-nilai terorisme yang kemudian dicemot oleh orang-orang yang lemah jiwanya yang merasa kurang dibanding barat.

Seharusnya ungkapan yang diiklankan oleh layar TV Arab adalah: “Saya Muslim, saya korban terorisme”. Semantara musuh-musuh kita, aib terorisme, peperangan, yahudisasi, pembangunan pemukiman koloni yahudi, penggusuran rumah, penyiksaan, pembantaian, dan kejahatan-kejahatan lain, akan mengejar mereka sepanjang sejarah. Merekalah produsen terorisme, terlepas dari agama mereka. Dan korban terorisme mereka adalah kita umat Islam. Kita terus berjuang demi kebebasan dan kehormatan, mujahid untuk melepaskan diri dari terorisme, represifme, penjajahan dan kolonialisme mereka! (bn-bsyr)

Rabu, 25 Agustus 2010

Perundingan Tanpa Referensi dan Tanpa Legitimasi


Abdul Bari Athwan

(Al-Quds Arabi London)

Sejak Mahmud Abbas memegang mandate presiden otoritas Palestina di Ramallah, sejak ia melanggar janji-janji dan kata-katanya satu demi satu, kredibiltasnya dan kredibilitas bangsa Palestina semuanya hancur di mata dunia Arab dan dunia internasional.

Abbas berjanji tak mau menggelar perundingan-perundingan setelah konferensi Annapolis jika permukiman yahudi terus dibangun, tapi akhirnya dia pergi berunding. Ia berkata tidak akan berpindah dari perundingan tidak langsung kepada perundingan langsung, kecuali jika ada kemajuan sementara. Namun kini ia siap pergi ke Washington untuk memenuhi undangan perundingan tanpa mempedulikan syarat yang ia buat sendir.

Kita tak mengerti bagaimana Abbas meminta agar ada refensi perundingan yang akan diikutinya sekarang. Padahal perundingan itu memang tidak memiliki referensi. Namun meski ada satu referensi, tetap itu tidak dihormatinya dan anggota-anggotanya. Karenanya, tidak berlebihan jika dikatakan, Abbas tidak pernah menghormati bangsa Palestina dan aspirasinya. Apakah Abbas lantas mengakui bahwa bangsa Palestina ini ada.

Dulu, Abbas merujuk kepada Dewan Eksekutif PLO, namun kini ia tidak terikat lagi dengan dewan ini. Ia pun pergi menuju ke perundinga menentukan nasib bangsa Palestina dengan keputusannya sendiri, mungkin ia akan menandatangani kesepakatan damai atas namanya sendiri.

Hanya 9 anggota DPP PLO yang hadir dalam pertemuan terakhir. Meskipun TV Palestina resmi milik Otoritas Palestina merekam gambar ruangan penuh dengan anggota yang dipimpin Abbas untuk mengelabui bahwa kuota penuh dan keputusan itu legal. Ini salah satu proses paling berbahaya dalam politik yang dialami oleh bangsa Palestina, tapi berlangsung terus menerus.

Jika Abbas tidak mendapatkan dukungan dari Front Rakyat, Front Demokrasi, Partai Rakyat Palestina dan Front Pembebasan Arab dan Palestina, apalagi dari 10 faksi Palestina di Damaskus dari Hamas, Jihad Islami, Qiyadah Ammah, dan semua gerakan perlawanan di Jalur Gaza, juga Forum Ekonomi Palestina atau Club Pebisnis Palestina, lantas siapa yang member dukungan kepada Abbas? Abbas merepresentasikan siapa dalam perundingan?

***

Sehari setelah menyetujui pergi berunding ke Washington, ada bocoran berita bahwa Abbas murka ketika Hillary Clinton mengumumkan resmi bahwa perundingan yang akan digelar tanpa syarat di depan. Bahkan Hillary mengulang-ulang tuntutan Benjemen Netanyahu dalam perundingan itu. Menurut bocoran itu, murka Abbas mereda setelah pembicaraan dengan kementerian luar negeri AS. Kemudian setelah itu Shaib Urekat, perunding Palestina menegaskan bahwa Abbas tidak akan kembali berunding jika satu batu di bangun di pemukiman Israel.

Dr. Shaib Urekat lupa semua “tidak akan” nya Abbas, tentang syarat-syarat Palestina yang masih terekam jelas di situs You Tube. Sayangnya, semua “tidak akan” itu menjadi “oke” yang diikuti oleh penjelasan dan pembenaran yang tidak meyakinkan.

Bukan kebetulan jika setiap kali Abbas menyatakan mundur dari satu dari sebagian syarat perundingan, atau kembali ke perundingan, gaji pegawai pemerintah otoritas (160 ribu pegawai) terlambat. Kemudian kita membaca laporan panjang soal deficit anggaran dan ancaman tidak dibayar gaji bulan depan jika tuntutan-tuntutan Amerika tidak didengar.

***

Capaian paling berbahaya Otoritas Palestina adalah warga Tepi Barat dan sebagian warga Jalur Gaza menjadi “budak gaji” dan menjadi obyek pemerasan bulan-bulanan dan setiap bulan. Yang kita khawatirkan, perbudakan ini akan menyebabkan semua Palestina akan diserahkan kepada Amerika.

Generasi baru di Tepi Barat tidak mengenal Intifadhah dan tidak mengenal alternative lain bagi bangsa Palestina selain perundingan untuk melanggengkan pendapatan gaji mereka di akhir bulan. Generasi baru itu tidak paham situasi nenek moyang mereka sebelum otoritas Palestina. Situasi waktu itu jelas dibanding sekarang: penjajah Israel dan bangsa Palestina yang melawan dengan kuat.

Sekarang, ada penjajah dan ada wakil-wakil lokalnya di sana. Para wakil penjajah itu begadang semalam suntuk menjaga ketenangan pemukiman yahudi dan mengadang dengan galak semua orang yang hendak mengganggu mereka. Bahkan suara adzan dan bacaan Al-Qur’an dibatasi. Pasukan keamanan Palestina menadi perpanjang badan keamanan Israel dan menggelar koordinasi dalam melawan mereka melawan Israel. bahkan Menteri Wakaf otoritas Palestina mengeluarkan fatwa merespon tuntutan warga yahudi.

Netanyahu berbohong kepada semua pihak. Baik bangsa Arab atau Amerika. Tapi kepada konco dan koalisinya di pemerintahannya atau kepada warga Israel, Netanyahu tidak pernah berbohong. Sebab ia pasti akan evaluasi dan kredibilitasnya jika tidak komitmen dengan program politiknya saat kampanye. Sementara tidak seorang pun yang mengevaluasi Abbas. Abbas terus memutuskan sesuai kehendaknya seakan ia bertindak mewakili orang yang memilihnya.

***

Gedung Putih memahami realitas ini dengan baik. Mereka memahami detail kelemahan orang-orang Abbas satu persatu (bukan titik kekuatan). Karenanya, Gedung Putih menekan mereka. AS langsung mengeluarkan intruksi dan tanpa sanggahan dari Abbas berupa “tapi”.

Inilah pembantaian politik baru bagi Palestina yang didukung oleh pemimpin moderat dari kalangan bangsa Arab yang akan bersanding di Washington dalam perundingan mendatang.

Bukan hal baru bila perundingan ini menghasilkan hal yang tidak adil. Sebab tayangan perundingan kali ini tujuannya menyiapkan pentas perang baru kepada sebuah negeri Islam.

Yitshak Shamir, mantan PM Israel mengatakan dirinya ikut KTT perdamaian Madrid tahun 1991 yang digelar untuk memberikan legitimasi infasi ke Irak yang menelan korban ratusan ribu warganya, dia berunding dengan Arab lebih dari 20 tahun ke depan tanpa memberikan sejengkal pun tanah yang dijajah Israel kepada Arab.

Padahal tangan kanan Shamir di Madrid waktu itu adalah Netenyahu. Ya ramalan Shamir terbukti. Setahun lalu setelah perundingan damai Arab – Israel – tepat 20 tahun Shamir melontarkannya – hasil perundingan itu jelas tanpa diperjelas kembali.

Netanyahu akan melanjutkan rute yang ditempuh gurunya Shamir dan akan mewujdkan keinginannya, selama “budak gaji” itu menerima perdamaian ekonomi dan lebih memilih roti ketimbang harga diri serta melupakan bahwa mereka anak-anak dari generasi Intifadhah paling agung di sejarah modern ini. (Info Palestina)